Dukung Swasembada Pangan, Pemkab Tanggamus Akan Gelontorkan 90 Ton Pestisida Gratis ke Petani

TANGGAMUS – Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung program Swasembada Pangan Tahun 2026 Pemerintah Kabupaten Tanggamus, melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH), aka menyalurkan 90 ton pestisida gratis kepada petani.

Bantuan pestisida tersebut bersumber dari Kementerian Pertanian Indonesia (Kementerian RI). Saat ini, 50 ton pestisida telah tiba dan disimpan di gudang DKPTPH Tanggamus.

Alkat Alamsyah, Kepala DKPTPH Tanggamus menjelaskan bahwa dari 50 ton pestisida yang telah diterima tersebut terdiri atas 15 ton insektisida untuk pengendalian hama serangga, 15 ton fungisida untuk pembasmi jamur, serta 20 ton rodentisida untuk pengendalian hama tikus.

“Total bantuan pestisida dari Kementan RI yang diterima Kabupaten Tanggamus sebanyak 90 ton. Jenisnya beragam, antara lain insektisida, fungisida, rodentisida, herbisida untuk gulma atau rumput, akarisida atau mitesida untuk tungau, serta bakterisida untuk membasmi bakteri patogen.

Ia menerangkan, mekanisme penyaluran pestisida dilakukan berdasarkan permohonan dari petani sawah yang lahannya mengalami serangan hama tanaman padi. Petani diminta melaporkan kondisi tersebut kepada petugas penyuluh lapangan (PPL) dengan menunjukkan bukti serangan hama di lahan persawahan.

Selanjutnya, PPL akan mengoordinasikan permohonan bantuan pestisida tersebut kepada DKPTPH Tanggamus untuk ditindaklanjuti.

“Meski ini bantuan gratis, penyalurannya tetap mengikuti standar operasional prosedur (SOP) sesuai ketentuan dari pemerintah pusat. Harus ada laporan yang jelas dan terperinci terkait serangan hama, sehingga tidak bisa direkayasa,” tegasnya.

Berdasarkan data DKPTPH, produksi Gabah Kering Panen (GKP) Kabupaten Tanggamus pada 2025 tercatat sebesar 165.241 ton dari luas persawahan sekitar 15.300 hektare. Angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan produksi tahun 2024 yang mencapai 171.389 ton GKP.

Alkat menyebutkan, penurunan produksi GKP pada 2025 disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya bencana banjir bandang di Kecamatan Bandar Negeri Semuong (BNS) serta serangan hama wereng di wilayah Kelumbayan. Musibah banjir dan serangan hama menjadi faktor utama penurunan produksi gabah kering panen tahun lalu,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *