TANGGAMUS – Keluarga besar Keratuan Semaka melakukan kunjungan silaturahmi ke Kesultanan Banten, Kamis 10 April 2025.
Kunjungan ke Kesultanan Banten itu dipimpin oleh Abu Sahlan bergelar Pangeran Punyimbang Ratu Semaka, keturunan ke-13 Ratu Tunggal Balak Kuasa yang merupakan raja Kekhatuan Semaka.
Kedatangan rombongan dari Keratuan Semaka yang mewakili Junjam Jawi, Junjam Sema, 4 Paksi dan 14 Kebandaraan di Tanggamus itu disambut hangat oleh Sultan Banten ke- 18 Ratu Bagus (Rtb) Hendra Bambang Wisanggeni Soerjaatmadja.
Keturunan ke 13 dari raja Kekhatuan Semaka, Abu Sahlan menyampaikan bahwa di Banten pada minggu-minggu ini merayakan 500 tahun Banten.
“Jadi kita dari Keratuan Semaka silaturahmi ke Kesultanan Banten. Dan Alhamdulillah langsung disambut oleh Sultan Banten,” ungkapnya.
“Kesultanan Banten juga sangat antusias, bahkan dari Kesultanan Banten juga insyaallah akan bersilaturahmi ke Tanggamus,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa di Tanggamus ada Junjam Jawi, Junjam semaka, 4 paksi dan 14 kebandaran yang masih dibawah naungan Kesultanan Banten.

4 paksi tersebut merupakan salah satu yang dibentuk oleh belanda untuk mebawahi kebandaran – kebandaran, yakni Paksi Benawang, Paksi Padang Ratu, Paksi Way Nipah dan Paksi Belunguh.
Sedangkan 14 kebandaran itu adalah penggawa jawa pekon-pekon yang pernah hadir memenuhi undangan siba Sultan Banten dalam penyiaran agama islam di abad 17 dan 18 lalu.
“4 paksi dan 14 kebandaraan ini dapat gelarnya dari Kesultanan Banten,” terangnya.
Pun Sahlan berharap kedepanya Bupati Tanggamus dan dinas terkait dapat memberikan dukungan dan perhatiannya agar 4 paksi dan 14 kebandaraan serta Junjam Jawi dan Junjam Semaka bisa bersilaturahmi ke Kesultanan Banten.
“Saat acara Belangekhan, atau tradisi menjelang lebaran, ada beberapa tokoh adat yang pernah siba atau memenuhi undangan dari Kesultanan Banten dalam penyebaran agama islam tersebut saya undang dan saya sampaikan maksud saya untuk bersilaturahmi ke Kesultanan Banten. Dan mereka juga sangat antusias, nah jadi mereka juga sangat mengharapkan bisa ke Kesultanan Banten kedepanya, dengan mengharapkan dukungan dan bantuan dari Bupati Tanggamus serta dinas terkait,” ungkapnya.

Pun Sahlan menceritakan bahwa sebelumnya Kesultanan Banten sempat pudar, demikian juga dengan kebandaraan-kebandaran yang berdiri sendiri sendiri, sehingga dilakukan kembali silaturahmi untuk menyambung tali yang pernah terjalin di masa-masa lampau.
Pun Sahlan menyampaikan bahwa silaturahmi ini baru pertama kali dilakukan, karena sudah lama putus kontak dengan Kesultanan Banten.
“Kemungkinan putus kontak ini semenjak terjadinya letusan Gunung Krakatau,” katanya.
Ia mengaku, mengetahui masih ada Kesultanan Banten karena masih banyak peninggalan peninggalan di wilayah Banten yang masih eksis dan dikelola.
“Memang masih ada Sultanya juga, sampai sekarang,” ungkap Pun Sahlan.
“Maka dari itu harapan saya dapat menghidupkan kembali tali silaturrahmi dan kalau bisa dari Pemkabnya memberikan perhatian dan bantuan agar 4 Paksi dan 14 Kebandaraan juga bisa bersilaturahmi ke Kesultanan Banten,” ungkapnya.

Diketahui, Keratuan Semaka adalah salah satu kerajaan di Teluk Semaka, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, antara abad 15 hingga 18.
Keratuan Semaka beberapa kali sempat pindah tempat. Namun memasuki abad 18, Keratuan Semaka menetap di Pekon Sanggi Unggak, Kecamatan Bandar Negeri Semuong.
Keratuan Semaka dipimpin oleh Ratu Tunggal Balak Kuasa yang merupakan Raja Keratuan Semaka. Keratuan Semaka berjaya pada abad 15 sampai 18.
Dulu, Keratuan Semaka awalnya menampung penduduk dari kerajaan Sekala Brak Buai Anak Tumi atau Kerajaan Sekhala Bekhak kuno.
Saat itu kekuasaannya ditumbangkan kelompok yang kemudian mendirikan Paksi Pak Sekala Brak.
Dulunya, Sekala Brak Buai Anak Tumi adalah animisme. Kemudian dikalahkan Sekala Brak Paksi Pak yang sudah Islam. Dan Keratuan Semaka menampung pelarian Sekala Brak Buai Anak Tumi.setelah menampung Sekala Brak Buai Anak Tumi.
Keratuan Semaka kian diakui saat membantu Kesultanan Banten dalam menaklukan Rawayan atau yang saat ini dikenal sebagai Suku Badui di Pandeglang, Banten. Saat itulah disebutkan Keratuan Semaka masuk wilayah kekuasaan Kesultanan Banten.
Keratuan Semaka semakin diakui lagi setelah mengirimkan bantuan pasukan perang ke Radin Inten untuk melawan kolonialisme.
Bukti itu masih ada berupa meriam berwarna hitam yang ditempatkan di teras museum.
Setelah abad 18, Keratuan Semaka mulai redup oleh beberapa faktor. Diantaranya seperti tidak tersebutkan lagi nama Keratuan Semaka dan berganti dengan sebutan Semoung.
Kemudian pimpinannya lebih memilih menyebarkan ajaran agama Islam daripada membesarkan dan menguatkan kekuasaan keratuan. Saat ini keratuan Semaka dipimpin oleh Abu Sahlan.
Adapun kisah hubungan Kesultanan Banten dan Lampung yang sudah terjalin sejak masa Sultan Maulana Hasanuddin dan Ratu Darah Putih membuat kesepakatan dalam penyebaran agama Islam.
Kemudian hubungan tersebut berlanjut di bidang perniagaan lada dan pada masa kolonial Belanda.
Dari hubungan tersebut hingga kini terdapat masyarakat Lampung di Banten dan begitu pula sebaliknya di Lampung.
Masyarakat Lampung di Banten menetap di 4 kampung (pak pekon) yaitu Cikoneng, Tegal, Bojong dan Salatuhur.
Masyarakat Lampung di Desa Cikoneng tersebut adalah gabungan dari 2 kebudayaan adat Lampung yaitu Pepadun dan Saibatin.
Selain itu, ada beberapa benda peninggalan masyarakat Lampung seperti Masjid Cikoneng, Sumur Agung Salatuhur, Kompleks Makam Minak Sangaji dan Kompleks Makam Anyer Tulaksaka yang masih banyak dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah.
Pada masa kolonialisme, Banten dan Lampung saling membantu dalam melawan penjajahan Belanda. (*)









