TANGGAMUS – Masjid Imaduddin yang berada di Pekon Way Kerap, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, menjadi salah satu ikon baru rest area sekaligus wisata religi di jalur Lintas Barat menuju Bengkulu.
Masjid Imaduddin dibangun pada tahun 2008 sebagai bagian dari program “Satu Kabupaten Satu Masjid” yang digagas oleh Gubernur Lampung saat itu, Syachroedin Z.P. Peletakan batu pertamanya dilakukan langsung oleh Gubernur Syachroedin, didampingi Bupati Tanggamus Fauzan Sya’i beserta Forkopimda dan masyarakat setempat.
Dengan dana awal sebesar Rp300 juta dari Pemerintah Provinsi Lampung, Masjid Imaduddin dibangun di atas lahan seluas 500 meter persegi dan memiliki bangunan utama seluas 200 meter persegi. Hingga tahap akhir, pembangunan masjid ini menghabiskan dana hampir Rp1 miliar.
Masjid Imaduddin dikenal unik karena memiliki sumber air alami yang tidak pernah kering, bahkan saat musim kemarau. Air bersih yang mengalir deras dari kaki Pegunungan Bukit Barisan Selatan menjadikan masjid ini nyaman untuk bersuci dan beristirahat.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga berfungsi sebagai rest area bagi para musafir. Letaknya strategis di tepi jalan lintas, dilengkapi dengan fasilitas kopi dan air panas gratis selama 24 jam. Para pengunjung juga diberikan alas tikar atau terpal untuk beristirahat, serta area parkir yang luas.
Dikutip dari RRI, Syafiuddin Muas, tokoh masyarakat Pekon Way Kerap sekaligus pengurus masjid, mengatakan bahwa masjid ini tidak pernah sepi pengunjung, terutama saat arus mudik dan liburan.
“Menjelang lebaran, masjid ini sangat ramai. Bahkan lahan parkir tak cukup menampung kendaraan. Banyak pemudik dari Pulau Jawa yang singgah di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Krui atau Bengkulu,” ujarnya.
Masjid ini terletak di sisi kanan jalan dari arah Kota Agung menuju Bengkunat, tepat setelah jembatan Semaka atau Polsek Semaka. Letaknya yang strategis membuatnya menjadi pilihan favorit bagi pelintas jalan untuk beribadah dan beristirahat.
Pelayanan di masjid ini dijalankan selama 24 jam dengan sistem tugas bergilir, terutama untuk kebersihan. Pengurus tetap masjid ini adalah Pak Anas, yang dikenal ramah kepada setiap pengunjung. Petugas kebersihan berasal dari ibu-ibu warga sekitar yang bekerja secara bergiliran dari siang hingga sore.
Biaya operasional, seperti honor petugas dan kebutuhan bahan konsumsi seperti kopi, teh, dan gula, berasal dari sumbangan donatur tetap serta para pengunjung yang ingin berkontribusi.
Dengan segala keunikan dan pelayanannya, Masjid Imaduddin kini menjadi salah satu destinasi favorit bagi musafir yang melintasi jalur barat Lampung menuju Sumatera bagian selatan. (*)








