BANDARLAMPUNG – Provinsi Lampung tercatat memiliki 114 titik rawan bencana alam yang terus berulang di tiap tahunnya. Dengan bencana alam terbesar pada banjir, serta bencana lain seperti tanah longsor dan angin puting beliung.
Kapolda Lampung, Irjen Pol Helfi Assegaf mengatakan bahwa Provinsi Lampung memiliki 114 titik rawan bencana yang terserbar di 15 Kabupaten/kota.
“Saya lihat dari titik rawanannya kan kurang lebih ada 114 titik ya. Yang menjadi potensi yang tiap tahun itu berulang. Dari 114 titik itu, kurang lebih 85 persen itu banjir,” katanya Rabu (5/11).
Dengan tingginya persentase bencana banjir, sehingga memerlukan perlengkapan yang cukup untuk digunakan saat melakukan pengevakuasian.
“Untuk tenaga personel kita yang akan membantu, wajib menggunakan perlengkapan seperti pelampung. Makanya kita sudah ajukan ke Mabes Polri, mudah-mudahan segera difasilitasi untuk digunakan oleh anggota,” jelas Helfi.
Ia menyebut, jika segala kebutuhan serta personel disetiap Polres telah dipersiapkan, sehingga ketika dibutuhkan saat keadaan darurat semua telah siap.
“Ya, kita sudah cek tadi semuanya lengkap peralatan yang akan disiapkan, kemudian siap untuk digunakan juga, dan semuanya siap menunggu panggilan, setting-nya juga kita atur, sesuai dengan surat perintah yang saya terbitkan nantinya. Jadi, masing-masing Polres sudah tahu timnya siapa yang dari yang membantu, dari Sabhara, dari TNI, kemudian dari apa namanya, tenaga medisnya. Itu sudah disiapkan semua. Mudah-mudahan bisa membantu dan bisa mengantisipasi,” ungkap Helfi.
Helfi meminta kepada masyarakat untuk tetap waspada dan berjaga-jaga demi keselamatan, mengingat bencana alam bisa terjadi kapan saja.
“Ya, karena ini sudah berulang ya, mungkin ya tiap tahun. Kita berharap tahun ini dan seterusnya aman. Dan masyarakat untuk tetap waspada dan mengantisipasi segala kemungkinan,” ucapnya.
Tak hanya antar personel, pihaknya pun berkoordinasi dengan PT PLN untuk dapat mengantisipasi saat curah hujan dan air mulai menggenang.
“Yang harus diperhatikan adalah listrik, jadi kita koordinasi dengan PLN. Begitu ada suatu tempat sudah mulai kelihatan air naik, listrik harus segera dipadamkan untuk antisipasi. Kan rawan sekali karena saya lihat ada korban kesetrum listrik juga ada,” lanjut Helfi.
Tak hanya itu lanjut Helfi, yang perlu diperhatikan yakni titik poin berkumpul untuk melakukan evakuasi warga. Ia meminta agar warga yang akan dievakuasi dapat mempersiapkan diri dan menyimpan barang berharga.
“Semua unit harus harus bekerja, Lalu Lintas dapat membuat rekayasa jalan kalau misalnya terjadi banjir suatu tempat, otomatis kan ada pengalihan arus. Ya kan, itu bergerak. Makanya Lalu Lintas ada. Reserse pada saat kejadian, pasca kejadian, mereka patroli wajib, ya, mengantisipasi terjadinya kejahatan pencurian yang terutama,” tandasnya. (*)








