SABURAILAMPUNG — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus menggelar rapat koordinasi lintas sektoral guna membahas penanganan dampak abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Rapat strategis ini berlangsung di Aula Rapat Utama (Rupatama) Sekretariat Daerah Kabupaten Tanggamus pada Senin, 07/09/2026.
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Tanggamus, Suaidi, dengan didampingi Plt. Asisten II Maradona. Turut hadir jajaran kepala perangkat daerah, di antaranya Kadis Pendidikan Viktor Libradi, Sekretaris BPBD Iwan Junianto, Kadis Perhubungan Sabar M. Sitanggang, Kepala Badan Kesbangpol Beni Irawan, Kadis Lingkungan Hidup Kemas Amin Yusfi, Plt. Dinas PMD Syarif Zulkarnain, Direktur RSUD Batin Mangunang dr. Theresia Hutabarat, Kabid Linjamsos Dinsos Fina Oktasari, serta para Camat se-Kabupaten Tanggamus.
Plt. Asisten II, Maradona, menyampaikan bahwa setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan pihak kecamatan telah diinstruksikan untuk bergerak sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) masing-masing. Terkhusus wilayah kecamatan yang memiliki kerawanan tinggi terhadap potensi tsunami, para camat diminta segera menentukan titik kumpul dan jalur evakuasi.
” Para camat harus menyusun skenario evakuasi bekerja sama dengan BPBD Tanggamus, sekaligus masif mensosialisasikannya kepada masyarakat,” ujar Maradona.
Selain itu, pihak kecamatan diminta berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mengingat keterbatasan stok masker saat ini, camat diharapkan mengedukasi warga terkait penggunaan alternatif pelindung pernapasan, jika tidak memiliki masker medis, masyarakat dapat memanfaatkan sapu tangan atau kain bersih yang telah dibasahi air. Kecamatan juga diperkenankan membentuk Satuan Tugas (Satgas) kedaruratan yang disahkan melalui SK Camat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Tanggamus yang dipaparkan dalam rapat, dampak sebaran abu vulkanik ini diperkirakan berpotensi memengaruhi sekitar 641 ribu jiwa. Paparan abu tersebut tersebar merata di 20 wilayah kecamatan se-Kabupaten Tanggamus.
Menyikapi situasi tersebut, sejumlah langkah taktis dari berbagai instansi terkait telah disiapkan:
BPBD Tanggamus: Mengaktifkan kembali Tim Reaksi Cepat (TRC) dan memperkuat koordinasi bersama BMKG. Saat ini, BPBD Tanggamus juga telah menerima bantuan stimulan berupa 3.500 lembar masker dari BPBD Provinsi Lampung.
Dinas Pendidikan: Terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Setelah memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring pada 7–8 September, Dinas Pendidikan tengah menyusun skenario perpanjangan masa KBM daring jika kondisi paparan abu vulkanik GAK belum membaik.
Dinas Kominfo: Ditugaskan meredam peredaran berita bohong (hoaks) yang memicu kepanikan, seperti isu tsunami liar yang sempat beredar. Kominfo akan meluncurkan situs dan papan informasi resmi pembaruan aktivitas GAK agar masyarakat memiliki rujukan valid.
Bapperida Tanggamus: Mengeluarkan surat edaran kepada seluruh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di Tanggamus agar memperketat higienitas persiapan dan penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah, guna mencegah kontaminasi partikel debu vulkanik pada makanan.
Dinas Sosial: Menyiapkan skenario matang terkait manajemen logistik dan distribusi bantuan agar bisa tersalurkan dengan cepat jika eskalasi bencana meningkat.
Dinas Kesehatan & RSUD Batin Mangunang: Menjamin ketersediaan obat-obatan dan penanganan medis darurat. Pihak RSUD telah menyiagakan puluhan tabung oksigen sebagai langkah antisipasi gangguan pernapasan (ISPA).
Di sisi lain, Dinas Kesehatan juga telah mengajukan bantuan pengadaan salep mata ke Pemerintah Provinsi Lampung guna mengantisipasi iritasi warga.
Meskipun kesiapsiagaan terus ditingkatkan, Pemkab Tanggamus menjelaskan bahwa wilayahnya belum masuk ke dalam status tanggap darurat penuh. Berdasarkan 6 kriteria indikator yang ditetapkan BPBD, kondisi Kabupaten Tanggamus saat ini masih berada pada kriteria tingkat 4.
Melalui rapat koordinasi ini, Pemkab Tanggamus memastikan seluruh jajaran kedaruratan telah memverifikasi langkah-langkah mitigasi. Diharapkan dampak buruk akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau ke depan dapat diantisipasi dan diminimalisir dengan baik.(Rudi)








