Perkuat Mitigasi, BPBD Tanggamus Bentuk Desa Tangguh Bencana di Kecamatan Semaka

SABURAILAMPUNG– Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanggamus melaksanakan pembentukan desa tangguh bencana (Destana) diikuti oleh tiga Pekon, Pekon Sri Purnomo, Pekon Sri Kuncoro dan Pekon Sukajaya Kecamatan Semaka. Bertempat di Gedung Balai Pertemuan Pekon Sri Kuncoro. Selasa, 22/09/2026.

Kegiatan ini akan gelar selama 3 hari mulai tanggal 22 – 24 September 2026, dan dibuka langsung oleh Sekretaris BPBD Iwan Junianto, mewakili Kalak BPBD Tanggamus Irvan Wahyudi.

Turut hadir Camat Semaka Yusmanto Agung, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan Hendarman Wahid, Kakon Sri Purnomo Ilmudin, kakon Sri Kuncoro Erwantoni, kakon Sukajaya Abdul Karim, Babinsa dan babinkamtibmas serta 90 peserta Destana dari tiga Pekon di Kecamatan Semaka.

Langkah strategis ini diambil sebagai upaya nyata pemerintah daerah dalam memperkuat mitigasi berbasis masyarakat dan meningkatkan kesiapsiagaan warga terhadap potensi bencana alam. Kecamatan Semaka, termasuk Pekon Sri Purnomo, dikenal sebagai salah satu wilayah yang memiliki kerawanan tinggi terhadap potensi bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan cuaca ekstrem.

Melalui program Destana ini, masyarakat setempat dibekali kemampuan mandiri untuk mengenali ancaman, mengidentifikasi risiko, serta melakukan tindakan penyelamatan awal secara cepat dan tepat sebelum bantuan dari pihak terkait tiba di lokasi.

” Kita tak dapat memprediksi secara pasti kapan bencana akan terjadi, tetapi kita bisa mempersiapkan diri untuk mengurangi dampak dan resiko yang ditimbulkan. Upaya penanggulangan bencana tidak lagi berfokus pada tanggal darurat semata (reaktif), melainkan telah bergeser ke arah pengurangan resiko bencana (Proaktif). Prinsip dasarnya adalah membangun kesiapsiagaan dari tingkat yang paling dasar, yaitu keluarga dan Pekon/desa,”ucap Sekretaris BPBD Iwan Junianto.

Iwan Junianto melanjutkan, melalui program Desa Tangguh Bencana (DESTANA), BPBD berkomitmen untuk membekali masyarakat Pekon Sri Kuncoro, Pekon Sri Purnomo, dan Pekon Sukajaya agar memiliki kemampuan mandiri dalam 1. mengenali ancaman dan potensi bahaya di wilayah masing-masing.

  1. Mengorganisasi sumber daya masyarakat untuk pengurangan risiko bencana, 3. Menyusun rencana evakuasi dan kesiapsiagaan yang terstruktur, 4. Pulih dengan cepat dari dampak bencana jika sewaktu-waktu terjadi.

Pelatihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sarana penting untuk menyerap ilmu, melatih keterampilan teknis, dan membentuk Tim Relawan Penanggulangan Bencana di tingkat Pekon.

” Saya harap semua peserta dapat mengikuti setiap sesi materi dan simulasi dengan bersungguh-sungguh aktif berdiskusi, serta menularkan pengetahuan yang didapat kepada warga masyarakat lainnya. Kepada fasilitator bimbing mereka dengan pendekatan yang mudah di pahami, kontekstual sesuai kondisi lokal kecamatan Semaka, dan aplikatif di lapangan,”tandasnya.

Sementara itu, Kepala Pekon Sukajaya, Abdul Karim, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran BPBD Tanggamus di Kecamatan Semaka, mengingat wilayah tersebut rawan dan kerap kali dilanda bencana beberapa kali dalam setahun.

” Kami sangat bersyukur dengan adanya Destana ini. Meskipun para relawan bergerak tanpa insentif, hal itu tidak mematahkan semangat mereka demi mewujudkan pekon yang aman dan tangguh,” ujar Abdul Karim.

Ia juga menegaskan bahwa tanggung jawab ini tidak boleh dibebankan kepada relawan semata.

“Sebagai pemimpin, kepala pekon harus jauh lebih peduli dan berdiri di garda terdepan dalam mendukung masyarakat menghadapi bencana,” Pungkasnya. (Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *